Pertama Kali Mendaki Gunung !

Jumat, 08 Mei 2015

Bismillahir rahmannir rahim...
Sebelumnya saya mau kasih informasi kalau ini adalah tulisan pertama saya di blog, kalau rada jelek harap dimagnumin aja biar enak hehe.

Jadi, kali ini saya berbagi cerita tentang pengalaman pertama kalinya naik gunung. Pendakian ini sudah lama saya rencanakan tapi selalu gagal, alasannya karena teman-teman satu tongkrongan gak ada yang mau diajak, wahaha parah lo sob !

Akhirnya, tercetuslah mimpi ini bersama sepasang kekasih yang sekarang udah tsah jadi laki (Akang) bini (Ucil), pilihan kita adalah mendaki Gunung Marapi Sumatra Barat. Karena saya dan ucil belum pernah mendaki gunung, mulai hari itu kita bertiga gerilya dikampus ngajakin yang mau nanjak bareng.

Alhamdulillah H-5 kita dapat 2 orang teman yang mau diajakin nanjak gunung bareng, si Kalek dan Deri. Sebenarnya mereka ini junior kita dikampus, tapi lebih senior kalau soal nanjak gunung, berhubung mereka ini adalah mahasiswa pecinta alam, tentunya udah hafal medan dong dan yang lebih penting lagi mau direpotin sama newbie kaya kita hahaha.


Jumat, 8 Mei 2015

Tepat pukul 11 malam wib sebelum tanggal 8 mei 2015, di pom bensin jalan lintas Pekanbaru-Padang kita udah pada ready nungguin kendaraan antar kota yang akan lewat. Menjelang pukul 1 dini hari belum ada satupun kendaraan yang melintas, baik itu bus maupun travel, hanya ada mobil-mobil pribadi yang melaju kencang, wuusss. Jam segitu sebetulnya adalah jam tidur saya, mata udah mulai kantuk, dan yang lain mulai ambil posisi sandarin badan di carrier masing-masing.

Tak lama kemudian, mobil travel jenis mini bus nyamperin kita.
"nio kama diak?"
"ka koto baru da."
"marapi kan? 60 dih, oto tarakir ka padang."
"40 barangkek wak da, kalau indak awak tunggu bus se lah."
Tanpa basa-basi si abang sopir langsung angketin carrier kita satu persatu kedalam mobil. Cihuy, berangkat juga awak ni.

Kita sampai dipasar koto baru kurang lebih pukul 04.30 pagi, koto baru adalah pintu awal sebelum memasuki pos pendaftaran gunung marapi, koto baru posisinya terletak diantara gunung marapi dan gunung singgalang. Jika dari Pekanbaru maka gunung marapi berada disebelah kiri dan gunung singgalang berada disebelah kanan.

Kalek bilang kita akan start jam 6 pagi menjelang pasar buka, karena harus nunggu mobil pick up yang menuju ke pos pendaftaran.

Selfie dulu sambil nunggu angkutan pick up di pasar koto baru.
Dari kiri, Saya, Kalek, Deri, Akang, dan Ucil.
Waktu yang ditunggu tiba juga, jeng jeng !
Perasaan udah mulai gak karuan, antara tegang, senang, gembira, takut, cemas, sampai merasakan sesak boker, karena masih gak nyangka saya akan mendaki gunung. Setelah sampai di pos pendaftaraan dan registrasi pendaki, sayapun disuruh pimpin doa. Yaelah, ada-ada aja, gak tau orang lagi gugup apa, ditambah cuaca yang dingin membuat gigi atas dan gigi bawah saling beradu membentuk ritme ketukan, alhasil waktu ngomong dan pimpin doa jadi belepotan, saya pun gak ngerti ngomong apa haha.

Perjalananpun diawali dengan medan yang berat, melewati kebun dan pemukiman warga hingga akhirnya kita disuguhi jalanan yang nanjak-nanjak terus dan setapak, ya ampun gak ada bonusnya ini jalan, udah gitu nafas mulai ngap-ngapan dan mulai ngedumel sendiri, katanya sih gunung marapi ini tidak cukup baik untuk pemula karena medannya yang berat dan jarang bonus landainya. Wadaw, PR nih.

Satu setengah jam berlalu kita sampai di posko 1 (pesanggrahan) untuk istirahat. 
Disini tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda, lalu kita disambut dengan secangkir kopi hangat dari pendaki lain yang akan turun. Syukurlah, kaki ini bisa diselonjorin juga akhirnya, nafas yang sebelumnya ngap-ngapan pun kembali normal, gelak tawapun bertaburan karena kami saling menertawai sambil nikmatin pemandangan yang ada didepan, 15 menit berlalu kita lanjutkan perjalanan.

Melewati pemukiman dan kebun warga disertai kabut pagi, serta terjalnya medan.
Penampakan gunung singgalang dari posko 1 pesanggrahan.

Tiba di cadas !
Sekitar pukul 4 sore, saat kaki mulai menginjak bebatuan yang tadinya tanah dan akar, artinya kita sudah dekat dengan pintu angin, dimana ini menandakan batas tanaman hidup, yang didepannya adalah cadas (bebatuan yang menjadi leher gunung marapi) tempat berkemahnya para pendaki.

Ya, benar sekali, gak jauh dari pintu angin kita sampai dicadas gunung marapi, setelah melewati track yang sulit dan terjal, sehingga membuat kami banyak kehilangan tenaga. Alhamdulillah, ketika saya tau kita akan mendirikan tenda disini dan menyiapkan segala sesuatunya untuk makan dan tidur, tepar dah !

Lokasi tenda kita di cadas.
Tampak gunung singgalang dan gunung tandikek berdampingan disertai sunset.

Perkemahan di cadas marapi.
Sabtu, 9 Mei 2015.

Menuju puncak Merpati 2891 Mdpl.
Pukul 4 pagi kita start menuju puncak gunung marapi. Pagi itu begitu dingin, udara segar gak kaya di kota, kesempatan bagi saya untuk perbaiki sirkulasi udara yang ada diparu-paru, diganti dengan udara segar tanpa polisi, eh polusi hehe. Perasaan menjadi tenang dan damai, karena udah gak kepikiran lagi soal revisi skripsi hahaha.

Membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak tertinggi gunung marapi yang disebut dengan puncak Merpati, untuk melihat sunrise. Jika cuaca cerah maka kita beruntung, dari puncak merpati kita bisa melihat gunung singgalang dan gunung tandikek yang berdampingan, gunung talamau yang ada di pasaman, gunung talang dan danau singkarak di solok, serta gunung tertinggi di Indonesia yaitu gunung kerinci.

Begitu sampai dipuncak cuaca cerah tidak berkabut. Masya Allah..
Tak terkatakan indahnya seperti apa, sungguh pemandangan yang luar biasa !
Saya cuma bisa diam sambil nyengir dan merinding, merinding karena menggigil kedinginan haha. Pokoknya terbayar sudah pengorbanan dengan pemandangan yang menakjubkan.

Puncak Merpati 2891 Mdpl, bersama Kalek dan pendaki dari Malaysia.

Setelah menyaksikan sunrise, perutpun mulai keroncongan, Kalek sebagai ranger kita langsung inisiatif ngajakin ketaman edelweis untuk sarapan pagi disana. Yuhuuu, makan makan, memang the best kau lek, teman yang pengertian, kalau cewek udah aku pacarin nih wahaha.

Oiya, si Kalek ini juga mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana cara untuk buang air besar saat digunung, dan mengingatkan kita mengenai 3 poin penting ini :

1. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Dalam hal ini kita tidak dibolehkan mengambil bunga edelweis, guna untuk menjaga kelestarian yang ada digunung, mengingat populasi bunga abadi ini semakin sedikit. Sedih deh karena gak bisa dibawa pulang untuk sang mantan, huhu.

2. Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.  Maksudnya adalah tidak membuang sampah sembarangan apalagi meninggalkan begitu saja. Waktu perjalanan pulang mungkin kita adalah pengumpul botol plastik paling banyak. Serunya, waktu turun berisik karena ada yang bunyi dibelakang, klantang kluntung klantang kluntung.

3. Jangan membunuh apapun selain waktu. Artinya gak boleh membunuh makhluk hidup baik itu binatang dan tumbuhan. Kalau membunuh rasa patah hati boleh gak ya? hahaha.

Setelah berlama-lama ditaman edelweis, kita kembali ke cadas untuk menyaksikan sunset sambil melewati tugu abel yang memiliki nilai history.

Sesampainya di cadas kita kembali disuguhi pemandangan yang menakjubkan, awan dan kabut silih berganti menutupi kota Bukittingi dan Padang Panjang saat itu. Secara perlahan matahari mulai sembunyi dibalik awan dan malu untuk menampakkan diri dari balik gunung singgalang. Jingga gradasi biru gelap mulai meninggalkan terang, dan lampu-lampu kota menemani malam itu dari bawah sana. Widih, begitu indahnya ciptaan-Mu Tuhan.


Minggu, 10 mei 2015

Selang waktu berjalan, kami pun harus pulang dan turun jam 11 siang. Setelah carrier berdiri kokoh diatas pundak, kaki mulai melangkah dengan penuh semangat, kali ini dengan gairah yang berbeda tentunya, karena turunnya gak pakai nanjak, hahaha.

kurang lebih jam 4 kita sudah tiba di pasar koto baru dan bersiap-siap mandi di kamar mandi yang tersedia disebelah mesjid dekat pasar. Kebayangkan udah 3 hari gak mandi daki nya udah setebal aspal, rambut dengan sapu ijuk udah gak bisa dibedain.

Selepas kita semua udah pada wangi dan rapi, kita makan malam didekat pasar, lalu kemudian menunggu kendaraan yang lewat menuju Pekanbaru. Jam 8 malam kita sudah meninggalkan koto baru, rasa suka cita menjadi pengantar tidur di dalam travel, sehingga tak terasa 4 jam perjalanan sampailah kita di Kota Pekanbaru.

Perjalanan ini menjadi pengalaman dan pelajaran berharga bagi saya, merasakan negeri diatas awan untuk pertama kalinya. Sekian dan terima kasih untuk Akang, Ucil, Deri, dan Kalek.

Mohon maaf jika tulisannya kurang menarik, walaupun kurang menarik saya tetap semangat menulis kok haha. Tunggu tulisan berikutnya tentang perjalanan saya di Sumatra Barat lainnya, Sailing Komodo dan Overland Flores, serta trip saya ke Malaysia, Thailand, Hongkong, Macau dan Shenzhen. Salam ransel.

Sunrise, posisi di lereng puncak merpati.
Dari sini terlihat gunung talang, danau singkarak, dan gunung kerinci.
Akang dan Ucil, foto ini jadi cover wedding invitation mereka. Keren !

Saya ala Syahrini di taman edelweis, hahaha.


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS